'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
PWA Kalimantan Timur Adakan Penguatan Organisasi di Masa Pandemi Bersama Ketua LPPA PP 'Aisyiyah
21 Oktober 2021 00:09 WIB | dibaca 39
Samarinda,  Senin (11/10) Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Kalimantan Timur dan Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Samarinda menyambut Ketua Lembaga Penelitian dan Pengembangan ‘Aisyiyah Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah (LPPA-PPA), Alimatul Qibtiyah. Kehadiran Alim adalah dalam rangka memberikan Bimbingan Teknis Pernikahan Mandiri (Bimtek Pernikahan Mandiri) yang dilaksanakan oleh Kementerian Agama.
 
Ketajaman dan kejelian serta semangat ibu-ibu PWA, yang melihat dan mendengar kehadiran Prof. Alim ke Kaltim segera tanggap dan sigap untuk  "menculik " Prof. Alim untuk mengadakan pertemuan yang kami kemas dengan tema "PENGUATAN  ORGANISASI DI MASA PENDEMI". 
 
Alhamdulillah, dalam waktu singkat ibu Afrida (ketua LPPA PWA Kaltim)  bersama anggotanya telah mempersiapkan segala sesuatunya setelah musyawarah dengan ibu-ibu Pimpinan Harian (Rabu, 6 Oktober 2021). Alhamdulillah acara pertemuan singkat dengan Prof. Alimatul Qibtiyah berjalan dengan lancar. Hadir dalam pertemuan kemarin (pimpinan harian) adalah ibu Zulaikah, ibu Purwati, ibu Cholifah, ibu Suhartini, ibu Nurhayati Tappa, ibu Susiyati, ibu Zubaidah. Ketua Majlis dan Lembaga, ibu Siti Aminah, ibu Mariyam, ibu Harminah, ibu Afrida, ibu ISNA, ibu Sumarni dan perwakilan dari PDA Samarinda. 
 
Dalam pertemuan singkat dan padat Karin Prof. Alim berpesan antara lain:
Pertama, LPPA harus selalu update data, sebagai informasi penting bagi pengembangan LPPA dan memudahkan akses keterbukaan.
Kedua Manajemen dan Komitmen. Strategi para anggota pimpinan harus mengerami telornya agar menetas, maksudnya anggota pimpinan itu harus mengawal program dari awal sampai akhir. Berusaha selalu menyisihkan waktunya untuk Aisyiyah bukan menyisakan waktu untuk 'Aisyiyah.
Ketiga menjaga Identitas Muhammadiyah-Aisyiyah. Identitas yang dimaksud adalah melalui Perempuan berkemajuan dan Aisyiyah berkemajuan, sebagai umat tengahan, tidak ektrim kiri dan tidak ekstrim kanan.
 
Pada kesempatan kemarin, Prof. Alim juga mengingatkan pesan ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, pak Haedar "Sikap Muhammadiyah terhadap Keyakinan ada Nabi setelah Nabi Muhammad adalah tidak sesuai dengan Islam yang dipahami Muhammadiyah. Prof. Alim juga mengingatkan dengan fikih perempuan Adabul Mar'ah fil Islam. Fikih Perempuan yang  ditarjihkan setelah melalui proses dan diskusi panjang sampai 11 tahun, dan diterbitkan buku ADBUL MAR'AH FIL ISLAM. Penerbit buku ini adalah Suara Muhammadiyah cetakan I April pada tahun 2010 dan cetakan VI Maret 2020. 
 
Selanjutnya Prof. Alim menyampaikan dan mengingatkan bahwa selama Pandemi Covid-19, banyak terjadi peristiwa yang membuat perubahan pola kehidupan dalam masyarakat dalam berbagai sendi kehidupan. Salah satu diantara akibat korban meninggal dan korban di PHK menyebabkan seorang istri harus menjadi kepala keluarga yang mencukupi segala kebutuhan keluarga. Bersyukur wanita ditakdirkan oleh Allah SWT sebagai manusia yang mempunyai perbedaan dan kelebihan dibanding kaum perempuan. Seorang wanita mengalami menstruasi setiap bulan,  melahirkan dan menyusui adalah kelebihan yang tidak dapat dilakukan oleh laki-laki. Wanita yang sudah terbiasa mengalami berbagai kesulitan dan kesakitan dalam tiga hal tersebut menjadikan wanita tahan banting dan kuat. Sehingga pada masa pandemi wanita lebih tangguh dibanding laki-laki dalam menghadapi dan menyikapi kehidupan di masa pandemi. Akibat dari ketangguhan seorang wanita (Ibu Rumah Tangga) ini disikapi oleh laki-laki (suami) dengan dua sikap. Ada yang menanggapi, menyikapi dan menerima secara legowo (ikhlas) bahwa istrinya yang berpenghasilan lebih (secara ekonomi) suami bersikap adil dengan membantu pekerjaan istri di dalam mengurus keluarga, membantu pengasuhan anak-anaknya.  Namun di sisi lain ada laki-laki (suami) yang mengalami krisis maskulin  bersikap gengsi, merasa direndahkan, diremehkan   ketika harus mengurus pekerjaan rumah sehingga menghadapi istri dan keluarganya dengan cara kasar dan melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Selama masa pandemi telah terjadi perceraian (seorang istri) gugat cerai antara lain karena alasan ini.
 
Aisyiyah melalui Keluarga Sakinah, Fiqih Perempuan dan Fiqih anak diharapkan dapat membantu memberikan solusi terhadap persoalan-persoalan keluarga yang mengalami berbagai krisis (krisis mental, krisis sosial, krisis ekonomi dan lain sebagainya). Pimpinan dan anggota Aisyiyah diharapkan tidak bermental  hitung-hitungan (secara ekonomi) dalam perjuangannya. Menjaga kualitas dan kuantitas kerja, kerja ikhlas lahir batin dengan keyakinan bahwa Allah SWT yang akan membalas di dunia maupun di Yaumil akhir kelak. insya Allah.
___
Kontributor : Susiyati
Shared Post:
Arsip Berita
Berita Terbaru
Berita Terkomentari